Wednesday, May 20, 2015

I LOVE SINGING

Hi Geng,

Belakangan, seperti yang gue ceritakan di postingan sebelumnya bahwa Neurotic, sebagai band dan juga sumber utama mata pencaharian gue belum berhasil secara finansial, gue jadi sering sharing dengan teman-teman terdekat mengenai karir bermusik dan juga mengenai urusan menjadi kepala keluarga. Intinya lewat sharing bersama teman-teman, siapa tahu gue bisa menemukan pendapat-pendapat atau solusi mengenai masalah tersebut.

Anyway, gue belakangan menemukan 90% pendapat teman-teman gue cukup kontradiktif dan pesimis dengan keputusan gue "meninggalkan" instrumen bas, dan malah "beralih" menjadi seorang penyanyi (frontman).

"Menurut gue setiap manusia sudah ada jatahnya, dan menurut gue jatah lo adalah jadi pemain bas."

"Lo bener-bener nggak mau main bas lagi?"

"Main bas aja lagi, main yuk bantuin gue..."

"Lagian kamu aneh-aneh aja sih jadi penyanyi..."

"Suara lo tuh jelek dan pas-pasan, ya pantesan aja band lo nggak laku!"

"Mendingan lo pake sekolah hukum lo buat cari uang terus main bas jazz jazz gitu buat hobi aja kayak dulu, asik tau..."

"Gimana kalo lo main bas sambil nyanyi, kayak Sting gitu, asik kan!"

Yahhhh... kira-kira komentar-komentar seperti inilah yang mayoritas gue dapatkan.

First of all, gue meninggalkan bas? Dari awal karir gue bermain bas sebagai session player, kemudian menjadi co-founder dan personil Alexa, hingga kini gue menjadikan Neurotic sebagai band dan rumah utama gue dalam bermusik, gue masih turun tangan mengerjakan sendiri pembuatan part-part bas. Jadi, apakah betul gue meninggalkan bas? Tidak juga sih. Walaupun memang semenjak di Neurotic intensitas gue bermain bas secara live memang jauh lebih jarang dibandingkan dengan sebelum-sebelumnya, karena jelas porsi sebagai penyanyi dan frontman menjadi lebih diutamakan. 
Kemudian, mungkin kelihatannya bas adalah instrumen utama gue yang sangat sakral dan tidak boleh gue khianati apalagi tinggalkan. Padahal sejujurnya, instrumen pertama gue adalah piano. Gue belajar piano selama hampir 10 tahun, semenjak duduk di sekolah dasar, dan berhasil menyelesaikan pendidikan di salah satu sekolah musik yang cukup ternama di Jakarta yaitu Yayasan Pendidikan Musik (Jakarta Pusat). Namun, setelah 6 tahun menempuh pendidikan tersebut dan gue juga sempat melanjutkan lagi belajar piano secara intensif bersama Ibu Otti Jamalus selama kurang lebih 3 tahun, gue sadar kalau sepertinya untuk ukuran seseorang yang sudah menerima pendidikan yang cukup serius, piano sangat sulit bagi gue. Gue melihat sendiri, teman-teman yang sama-sama belajar semakin mahir dan gue tidak terlalu mengalami perubahan yang signifikan. Mungkin juga gue kurang giat berlatih atau juga mungkin sistem pengajaran piano klasik yang gue dapat di awal terasa cukup kaku dan membosankan. Namun hal ini tidak pernah membuat gue kecil hati dan gue tetap selalu tertarik untuk mengetahui lebih banyak soal piano, keyboardssynthesizers, dan musik pada umumnya.



Musik rock dan alternatif menjadi menu utama bagi gue sebagai bocah yang tumbuh di era 90-an dan juga sebagai remaja di dekade awal tahun 2000. Sehingga segala hal mengenai musik rock dan alternatif selalu menarik perhatian gue. Orang tua gue yang cukup suportif dengan ketertarikan gue ini pun membelanjakan satu set peralatan alat band dengan harga terjangkau untuk menyalurkan kegemaran gue ini. Alhasil, semenjak itu, sepulang sekolah gue bisa menghabiskan waktu berjam-berjam dan menimbulkan kegaduhan dan kebisingan yang luar biasa di ruang atas yang cukup angker di rumah lama keluarga gue di daerah Rawamangun, untuk mendengarkan kaset keras-keras sambil membaca isi cover-nya, bermain drum, bermain gitar dengan distorsi yang menusuk telinga, bermain bas, kadang-kadang juga sambil curi-curi belajar merokok, buka-buka majalah musik, browsing-browsing berita-berita musik (semenjak internet mulai populer), bergaya sok-sokan menjadi rockstar di depan kaca, dan juga bermimpi dan berharap bisa menjadi seperti Axl Rose, Kurt Cobain, Ahmad Dhani, dan musisi-musisi besar lainnya pada saat gue dewasa nanti.



Pada saat mulai main band di sekolah, walaupun gue senang sekali untuk main instrumen apapun, mungkin karena di jaman sekolah gue waktu itu biasanya yang main bas adalah yang paling tidak menguasai instrumen, sementara mungkin karena gue punya basic musik sehingga terdengar much much better pada saat main bas, mostly ujung-ujungnya gue selalu diajak untuk main bas. Hal ini terjadi terus hingga pada saat mau lulus SMA, gue bisa mendapatkan uang jajan dengan bermain bas di Twilite Cafe (TC) kemang. Masuk ke perkuliahan di UI, ajang Jazz Goes to Campus dan juga booming-nya Java Jazz Festival di era tersebut semakin menggelamkan gue dalam stigma "pemain bas jazz". Stigma yang walau terdengar berat, pada kenyataannya saat itu terasa fun.


Namun mimpi untuk menjadi rockstar tidak pernah padam, bahkan semakin besar. Sehingga pada tahun 2007 gue bersama Satrio yang sebelumnya adalah gitaris dari Maliq & D'essentials mendirikan band pop rock bernama Alexa. Band ini meraih kesuksesan nasional pada kurun waktu tahun 2008 hingga tahun 2010. Bahkan gue sempat masuk salah satu jajaran pada saat majalah Rolling Stone Indonesia membuat daftar "Pemain Bass Terbaik Indonesia". Namun tahun 2012 secara resmi gue berpisah dengan Alexa.



Neurotic yang gue dirikan di tahun 2012 adalah kumpulan dan konklusi dari seluruh ide musikal yang ada di kepala gue dari era ke era. Gue ternyata ingin berada di depan pada saat di atas panggung. Gue ternyata lebih suka membuat musik tanpa harus berdebat dengan terlalu banyak pihak. Gue ternyata lebih suka tim kecil yang kompeten, dibandingkan dengan tim besar dengan job desk yang sama, untuk bekerja secara efektif. Gue ternyata butuh rekan-rekan musisi-musisi yang handal untuk menerjemahkan karya-karya ini di atas panggung. Gue ingin menjadi si pembawa pesan ke penonton. Dan satu hal lagi, I really love singing.



Bernyanyi adalah salah satu hal menarik yang sebelumnya jarang gue lakukan. Gue tidak mempunyai suara emas dan merdu. Namun tetap tidak bisa dipungkiri, bernyanyi ternyata bagi gue adalah hal yang paling menyenangkan di atas panggung. Gue akan selalu terus berusaha dan berlatih supaya suara gue terdengar lebih baik ke depan. Bermain bas pun dahulu terasa lebih menyenangkan saat dilakukan sambil bernyanyi. Tidak ada yang mengalahkan kebahagiaan gue di atas panggung saat bersama Neurotic. Bernyanyi, bahkan berteriak, sambil bermain instrumen yang diperlukan, berada di depan, menyampaikan ke audience karya yang sudah gue buat, bagaikan menjadi striker pencetak gol di tim sepakbola.

So, despite everything you said to me...

I LOVE SINGING.

#letsgetweird
#everythingisawesome

2 comments: